Thursday, December 13 2018
Home / Kesehatan dan Lifestyle, Tips dan Trik / Aturan Sehat Mengkonsumsi Teh

Aturan Sehat Mengkonsumsi Teh

Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.

Istilah “teh” juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.

Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.

Teh bunga dengan campuran kuncup bunga melati yang disebut teh melati atau teh wangi melati merupakan jenis teh yang paling populer di Indonesia. Konsumsi teh di Indonesia sebesar 0,8 kilogram per kapita per tahun masih jauh di bawah negara-negara lain di dunia, walaupun Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar nomor lima di dunia.

Pengolahan dan Pengelompokan Teh

Teh dikelompokan berdasarkan cara pengolahan. Daun teh Camellia sinensis segera layu dan mengalami oksidasi kalau tidak segera dikeringkan setelah dipetik. Proses pengeringan membuat daun menjadi berwarna gelap, karena terjadi pemecahan klorofil dan terlepasnya unsur tanin. Proses selanjutnya berupa pemanasan basah dengan uap panas agar kandungan air pada daun menguap dan proses oksidasi bisa dihentikan pada tahap yang sudah ditentukan.

Pengolahan daun teh sering disebut sebagai “fermentasi” walaupun sebenarnya penggunaan istilah ini tidak tepat. Pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol yang dihasilkan seperti layaknya proses fermentasi yang sebenarnya. Pengolahan teh yang tidak benar memang bisa menyebabkan teh ditumbuhi jamur yang mengakibatkan terjadinya proses fermentasi. Teh yang sudah mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung unsur racun dan unsur bersifat karsinogenik.

Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih sedikit katekin karena katekin hilang dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.

 

Pengelompokan Teh Berdasarkan Tingkat Oksidasi:

 

1. Teh Putih

Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Tiongkok, walaupun secara perlahan-lahan teh putih dalam kemasan teh celup juga mulai populer.

 

2. Teh Hijau

Daun teh yang dijadikan teh hijau biasanya langsung diproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara tradisional Jepang dengan menggunakan uap atau cara tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas). Teh yang sudah dikeringkan bisa dijual dalam bentuk lembaran daun teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (teh yang disebut gun powder).

 

3. Oolong

Proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara teh hijau dan teh hitam yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.

 

4. Teh Hitam atau Teh Merah

Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe. Terjemahan harafiah dari aksara hanzi untuk teh bahasa Tionghoa (??) atau (??) dalam bahasa Jepang adalah “teh merah” karena air teh sebenarnya berwarna merah. Orang Barat menyebutnya sebagai “teh hitam” karena daun teh berwarna hitam. Di Afrika Selatan, “teh merah” adalah sebutan untuk teh rooibos yang termasuk golongan teh herbal.

Teh hitam masih dibagi menjadi 2 jenis: Ortodoks (teh diolah dengan metode pengolahan tradisional) atau CTC (metode produksi teh Crush, Tear, Curl yang berkembang sejak tahun 1932). Teh hitam yang belum diramu (unblended) dikelompokkan berdasarkan asal perkebunan, tahun produksi, dan periode pemetikan (awal musim semi, pemetikan kedua, atau musim gugur). Teh jenis Ortodoks dan CTS masih dibagi-bagi lagi menurut kualitas daun pasca produksi sesuai standar Orange Pekoe.

 

5. Pu-erh (Póu léi dalam bahasa Kantonis)

Teh pu-erh terdiri dari dua jenis: “mentah” dan “matang.” Teh pu-erh yang masih “mentah” bisa langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga “matang”. Selama penyimpanan, teh pu-erh mengalami oksidasi mikrobiologi tahap kedua. Teh pu-erh “matang” dibuat dari daun teh yang mengalami oksidasi secara artifisial supaya menyerupai rasa teh pu-erh “mentah” yang telah lama disimpan dan mengalami proses penuaan alami.

Teh pu-erh “matang” dibuat dengan mengontrol kelembaban dan temperatur daun teh mirip dengan proses pengomposan. Teh pu-erh biasanya dijual dalam bentuk padat setelah dipres menjadi seperti batu bata, piring kecil atau mangkuk. Teh pu-erh dipres agar proses oksidasi tahap kedua bisa berjalan, karena teh pu-erh yang tidak dipres tidak akan mengalami proses pematangan. Semakin lama disimpan, aroma teh pu-erh menjadi semakin enak. Teh pu-erh yang masih “mentah” kadang-kadang disimpan sampai 30 tahun bahkan 50 tahun supaya matang. Pakar bidang teh dan penggemar teh belum menemui kesepakatan soal lama penyimpanan yang dianggap optimal. Penyimpanan selama 10 hingga 15 tahun sering dianggap cukup, walaupun teh pu-erh bisa saja diminum setelah disimpan kurang dari setahun. Minuman teh pu-erh dibuat dengan merebus daun teh pu-erh di dalam air mendidih seringkali hingga lima menit. Orang Tibet mempunyai kebiasaan minum teh pu-erh yang dicampur dengan mentega dari lemak yak, gula dan garam.

 

Teh juga sering dikaitkan dengan kegunaannya untuk kesehatan. Teh hijau dan teh pu-erh sering digunakan untuk diet. Orang juga sering menghubung-hubungkan teh dengan keseimbangan yin yang. Teh hijau cenderung yin, teh hitam cenderung yang, sedangkan teh oolong dianggap seimbang. Teh pu-erh yang berwarna coklat dianggap mengandung energi yang dan sering dicampur bunga seruni yang memiliki energi yin agar seimbang.

 

Ramuan Teh

Sebagian besar merek teh yang dijual di pasaran merupakan hasil ramuan ahli teh yang membuat blend yang unik untuk merek tersebut dari berbagai daun teh yang berbeda. Rasa enak dari teh berkualitas tinggi dan berharga mahal biasanya bisa menutupi rasa teh yang berkualitas rendah, sehingga kualitas teh bisa meningkat dan dapat dijual dengan harga yang lebih pantas. Teh hasil ramuan juga menjaga agar rasa teh yang dimiliki merek tertentu tetap stabil sepanjang masa.

Teh melati dibuat dengan mencampur kuncup melati yang siap mekar. Sebelum dicampur dengan kuncup melati, daun teh mengalami proses pelembaban agar harum melati dapat menempel pada daun teh.

 

Aturan Sehat Mengkonsumsi Teh

Budaya minum teh sangat mengakar di Indonesia. Itu bukan sekadar kebiasaan penghilang penat di sore hari. Teh juga membantu meningkatkan fungsi pembuluh darah dan menurunkan kolesterol.

Namun, meraup sehat dari secangkir teh tak bisa sembarangan dilakukan. Misalnya, riset menunjukkan, manfaat maksimal teh hanya bisa diperoleh melalui konsumsi rutin: 4 sampai 6 cangkir per hari.

Selain itu, masih ada aturan lain yang harus “ditaati” agar manfaat teh dapat dirasakan optimal oleh tubuh. Menurut pakar diet klinis, Emilia E Achmadi, berikut hal yang harus diperhatikan saat mengonsumsi teh:

1. Seduh satu kali

Hasil seduhan kedua sudah tak lagi menyimpan nutrisi dan mineral yang terkandung dalam teh. “Satu kali penyeduhan adalah proses mencapai keseimbangan rasa yang tepat, serta manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan dan asam amino pada teh,” ujar Emilia. Jangan merasa sayang atau terlalu hemat dengan menyeduh teh berulang-ulang.

2. Perhatikan porsi

Penting memperhatikan porsi, agar asupan nutrisi teh mencukupi kebutuhan tubuh. Perhatikan pula untuk tidak menggunakan teh secara berlebihan. Untuk satu cangkir teh, diperlukan sebanyak 250cc air. Selain itu, teh yang digunakan pun cukup satu sendok teh untuk sekali seduh.

3. Hindari merebus teh

Cukup menyeduh teh dengan air panas, jangan merebusnya di atas kompor. Sebab, itu melenyapkan nutrisi yang terkandung di dalamnya. “Suhu 100 derajat Celsius membuat zat-zat yang baik dalam teh hilang,” lanjut Emilia.

4. Perhatikan suhu air

Emilia menambahkan, saat air mendidih, jangan langsung dipakai menyeduh teh. Diamkan dulu hingga suhunya berkisar antara 85 hingga 80 derajat selsius. Itu merupakan suhu terbaik untuk menyeduh teh. Air yang terlalu panas, akan menghilangkan kandungan baiknya.

5. Segera diminum

Setelah diseduh, teh sebaiknya tidak didiamkan terlalu lama dalam keadaan terbuka. Sebab, proses oksidasi akan menghilangkan kandungan sehatnya. Jika tidak diminum sampai habis, simpan teh dalam lemari es dengan kondisi tertutup. Suhu dingin akan menjaga kandungan antioksidannya.

6. Cara penyimpanan

Cara menyimpan teh harus diperhatikan, agar teh tetap segar saat akan dikonsumsi. Untuk itu, simpan teh di dalam lemari es dengan kemasan yang aman bagi kesehatan. Begitu juga dengan teh dalam kemasan siap saji.

 

sukasuka



Subscribe to our e-mail newsletter to get interesting stuff receive updates.

Rate this article


User Rating: ( votes)
Regret of the day and yesterday, and the fear of tomorrow are two thieves who take happiness today.

Check Also

19 Manfaat nutrisi buah naga untuk kesehatan dan ibu hamil

19 Manfaat nutrisi buah naga untuk kesehatan dan ibu hamil

Buah naga memiliki sejumlah manfaat kesehatan termasuk kemampuannya untuk membantu dalam penurunan …

0 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get our wellness newsletter

Food and nutrition tips, health news, and more.